Saturday, January 24, 2009

Libur, cerpen, dan imlek

ujian gw uda kelar!! HORREEEE...!!! berakhir sudah semester terkutuk yg penuh dgn mata kuliah umum ini. dan semester depan? gada lg mata kuliah umum hahaha..*LOL*
oiya, ngmong2 soal mata kuliah umum, ada mata kuliah kita yg namany Ilmu Budaya Dasar dan di sini kami mempelajari tentang "CINTA". yap, bener banget, cinta yg itu. cinta seorang pria kepada seorang wanita. Buset kan? sejak kapan taon gw sekola gada yg namany cinta di pelajari di bangku pendidikan. cinta itu dipelajari otodidak. *alaah* tapi di pelajaran ini bener2 di pelajari. cape deh..
dan salah satu tugas yg diberikan oleh si dosen adalah "Buatlah sebuah karya sastra tentang cinta!" Karya sastra di sini terhitung cerpen, puisi, syair, dll. dan karena gw sama sekali ga bisa ngarang, maka yg gw kumpulin adalah cerpen lama gw waktu tugas bahasa Indesia SMA dulu.
Here it is my lebay short story about love yg cerita ny gajebo bgt. oy, bahasa yg digunakan adalah bahasa pekanbaru yg ada unsur "do, lantak lah, dll"

Seribu Ekor Burung Kertas

”Don, aku nebeng pulang dong. Boleh ya?” kata Ratna ketika melihat Doni lewat di depannya berjalan menuju parkiran.

“Sorry, Na. aku lagi buru-buru. Mo nganterin Mama ke salon.” Jawab Doni tanpa menoleh kearah Ratna. Ratna kesal karena merasa diacuhkan oleh Doni, sedangkan Doni sama sekali tidak memperdulikan perubahan ekspresi pada Ratna.

“Pulang sama aku aja Na.” kata Koko sambil senyum-senyum mengejek ke arah Doni.

“Gak usah!” bentak Ratna kesal sambil menghentakkan kaki dan berlalu dari situ. Doni dan Koko terdiam, lalu kemudian,

“Hahahahaa…” mereka tertawa berbarengan.

“Tega kali lah kau Don.” Kata Koko pada Doni. “Anterin aja napa.”

“Ah, malas aku. Ratna tu kalo dikasi hati minta jantung. Bisa-bisa disangkanya aku suka sama dia nanti kalo aku mau nganterin dia pulang.” Jawab Doni tak acuh.

“Ya itu kan urusan dia. Kau kan cuma berbuat baek aja nganterin dia pulang.” Kata Koko lagi.

*“Ah lantak lah situ.” Jawab Doni jengkel. Koko emang paling semangat kalo urusan nyomblangin dia sama cewek. “ Ntik sore aku ke rumah kau ya. Jam 5-an.” Katanya lagi sambil menstarter motornya.

“Yup.” Jawab Koko singkat. Doni pun langsung memacu motornya berlalu dari situ. Koko geleng-geleng kepala melihat Doni. Sahabatnya itu emang paling susah didekati cewek, kaku abis. Padahal tak sedikit cewek yang menaruh hati padanya. Koko pernah beberapa kali mencoba mencomblangi Doni dengan beberapa cewek. Mulai dari Fani, kembang sekolah mereka waktu masih SMA, sampai Ika adiknya sendiri pun yang diketahuinya diam-diam menyukai Doni pernah dicomblangi nya dengan Doni yang akhirnya berbuah Ika patah hati. Namun Ika maupun Koko tak pernah marah atas penolakan Doni pada Ika. Mereka sadar kalo cinta itu tak bisa dipaksakan.

Sore itu tepat pukul lima Doni udah sampai di rumah Koko.

“Koko ada, Tante?” sapa Doni ketika Mama Koko membukakan pintu.

“Liat aja di kamarnya.” Jawab Mama Koko ramah. Koko dan Doni udah cukup lama bersahabat jadi keluarga Koko lumayan mengenal Doni dan Doni pun uda tak segan lagi berkeliaran di rumah Koko. Maka Doni pun langsung naik ke atas menuju kamar Koko. Namun ketika dibukanya pintu kamar Koko, kamar itu kosong. Tak nampak sosok Koko di mana pun. Doni duduk di tempat tidur Koko dan melihat-lihat majalah otomotif milik Koko. Namun setelah 15 menit berlalu dan Koko belum juga kelihatan, Doni memutuskan untuk menelpon Koko.

“Nomor yang anda tuju sedang sibuk, Silahkan coba beberapa saat lagi,,,” kata Tante Veronica menjawab panggilan Doni. Doni memencet keypad hape nya dengan kesal. “Kemana sih ni anak?” rutuknya kesal. Akhirnya Doni keluar dari kamar Koko. Ketika menutup pintu kamar Koko, Doni melihat pintu kamar Ika yang berada di depan kamar Koko terbuka. Dan dilihatnya Ika sedang asik di mejanya ntah melakukan apa. Maka diperhatikannya kegiatan Ika. Rupanya Ika sedang melipat burung-burungan dari kertas origami. Di samping Ika ada toples kaca yang berisi banyak burung-burungan juga.

“Lagi ngapain, Ka?” Tanya Doni tiba-tiba mengagetkan Ika.

“EH? Kamu yang lagi ngapain disitu. Masuk kamar orang kok ga pake salam ga pake ketok pintu dulu. Main masuk aja.” Jawab Ika ketus. Dia kesal karena dikagetkan seperti itu.

“Atau kamu lupa? Kamar Koko tuh di depan. Ini kamar aku.” Katanya jutek.

“Iya iya sorry. Aku tadi dari kamar Koko kok. Tapi dia nya ga ada.” Jawab Doni salting.

“Trus kok malah bergerilya ke sini?”Tanya Ika lagi.

“Tadi aku liat kamu serius banget, jadi aku penasaran aja kamu lagi ngapain. Sorry ya kalo ganggu.” Kata Doni sambil berbalik menuju pintu.

“Oh ga kok. Aku cuma kaget aja.” Jawab Ika tiba-tiba ga jutek lagi. Doni ga jadi keluar dari kamar Ika.

“Ini lagi bikin burung-burungan kertas. Dari kertas origami.” Jelas Ika. Doni melihat-lihat burung-burungan yang sedang dilipat Ika.

“Ngapain bikin-bikin burung kek gitu? Buang-buang waktu aja.” Katanya.”Eh, sorry Ka. Aku ga maksud….”

“Ga apa-apa kok. Ini aku emang pengen aja ngelipat-lipat burung. Kemarin baru diajarin temen di sekolah.” Jawab Ika sambil meneruskan kegiatannya.

“Trus ini ngapain banyak banget bikinnya?” Tanya Doni lagi ketika dilihatnya tak hanya toples di meja yang berisi burung-burungan, tapi juga kardus di samping tempat tidur. Doni duduk di tempat tidur Ika dan meraih kardus berisi burung itu. “Waw,,pasti ratusan nih jumlahnya.” Katanya lagi. Ika tersenyum malu.

“Iya,yang di kardus itu lima ratus ekor.”

Doni terkejut. “Buat apa sih?” Tanya nya lagi. Penasaran. Ika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Mmmm…” gumamnya ragu-ragu. Diliriknya Doni. Rupanya Doni sedang memandangnya dengan mata penuh tanda tanya. Ika menghela napas, lalu menjawab pertanyaan Doni.

Ada mitos. Katanya kalo seseorang ias melipat seribu ekor burung-burungan kertas dalam waktu 30 hari, dan dia melakukannya sambil benar-benar meminta sesuatu, maka keinginan orang itu akan dikabulkan.” Jelas Ika. Doni tertegun. Tapi kemudian…

“Gyahahahahaa… Hari gini masih mitos?” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. “Siapa yang bakal ngabulin? Burung-burung itu? Hahhaa.,paling-paling mereka bakal terbang danga balik-balik lagi.” Ledek Doni sambil terus menertawakan Ika. Ika tersinggung karena ditertawakan maka dia balas membentak Doni.

“Biarin. Suka-suka aku lah, mau percaya atau ga kan bukan urusan mu!!” jawabnya ketus.

Tiba-tiba Koko melongokkan kepalanya di pintu.

“Kau aku cariin di sini rupanya mah.” Katanya pada Doni.

“Gigi kau tu! Uda sejam aku nunggu kau yang ntah dimana.” Balas Doni pada Koko. Koko nyengir. “Hehe, sorry sorry. Tadi Risa nelpon minta dijemput.” Kata nya beralasan.

“Iya kan kau bisa ngabarin aku biar aku ga nunggu-nunggu kau.” Doni tetap aja ngomel-ngomel.

“Heh! Kok malah berantem di sini. Sana keluar!!” usir Ika kesal pada Doni dan kakaknya yang malah berantem di kamarnya. Didorongnya mereka keluar.

“Ganggu aja!” katanya sambil mengunci pintu kamar dan ia pun meneruskan kegiatannya yang terinterupsi oleh dua pengganggu tadi. Diambilnya selembar kertas origami dan mulai dilipatnya sambil dalam hati terus berdoa, “Semoga Doni bisa lebih membuka hatinya.”

---

Seminggu telah berlalu sejak hari itu. Hari ini lagi dan lagi Doni bertandang ke rumah Koko. Mereka mau maen PS. Tapi waktu lagi asik-asiknya main,Risa pacarnya Koko nelpon lagi minta dijemput.

“Don, aku jemput Risa dulu ya. Abangnya ga bisa jemput.” Kata Koko sambil mengambil jaketnya. “Kau maen sendiri dulu ya.”

Koko keluar dari kamarnya dan tinggallah Doni sendirian di kamar. Awalnya Doni maen sendirian, tapi tiba-tiba dia teringat pada Ika dan burung-burungannya. Maka dia pun beranjak dari situ menuju kamar Ika.

“Tok..tok..” Doni mengetuk kamar Ika. “Ka, ini Doni. Boleh masuk?” sapanya dari luar kamar. Tak lama kemudian pintu terbuka dan tersembullah kepala Ika dibaliknya.

“Mo ngapain?” tanya Ika judes. Doni nyengir. “Doohh,,yang masih marah. Jangan jutek-jutek gitu dong.” Katanya sambil menggoda Ika. Ika tetap cemberut tapi membuka pintu kamarnya lebar-lebar tanda Doni boleh masuk. Di meja Ika masih berserakan banyak burung-burungan, tanda dia masih aja melipat burung-burung itu.

“Uda berapa banyak burungnya?” tanya Doni serius, mungkin mau menebus kesalahannya menertawakan Ika tempo hari.

“900-an.” Jawab Ika kalem.

“Wuizz,,,tinggal dikit lagi tuh. Kapan deadline-nya?” tanya Doni lagi.

“Besok.” Jawab Ika lagi-lagi masih kalem. Masih dendam ditertawakan dia.

“Hebat juga ya kamu, dalam waktu 30 hari bisa ngelipat 1000 ekor. Ga gempor tuh tangan?” puji Doni. Ika melirik Doni dan ia pun tersenyum ketika disadarinya Doni tak sedang mengejeknya. Doni tulus memujinya.

“Apa sih yang kamu pengenin sampe segitunya?” tanya Doni lagi. Benar-benar penasaran dia apa yang diinginkan Ika sampai rela melipat burung sebanyak itu.

“Adaaaaaaaaaaaa dehhhh…” jawab Ika sambil nyengir. “Mo tauuuu aja.”

Doni ikut-ikutan nyengir. Bingung mau menjawab apa. Akhirnya dia diam saja dan memperhatikan Ika yang kembali menekuni burung-burungnya. Diperhatikannya jari-jari Ika yang dengan telaten melipat burung-burungan itu. Tahap demi tahap hingga akhirnya kertas petak biasa berubah menjadi seekor burung-burungan.

“Rumit juga ya bikinnya. Ajarin dong!” pinta Doni pada Ika. Ika menatap Doni. Tak yakin apa permintaan Doni serius atau hanya sekedar mempermainkannya.

“Serius?” tanyanya untuk meyakinkan ketika dilihatnya DOni diam saja, bukannya menertawakan atau mengejeknya. Doni mengangguk-anggukkan kepalanya. Maka Ika pun bersedia mengajarkan Doni walau ia tak tau apa manfaatnya bagi Doni belajar melipat burung-burungan. Dengan telaten dia mengajari Doni melipat tahap demi tahap kertas itu. Namun Doni tak bisa berkonsentrasi pada ajaran kita. Ntah kenapa matanya justru mencuri-curi pandang pada Ika. Dilihatnya Ika yang begitu baik, Ika yang begitu manis, Ika yang begitu lucu, Ika yang dulu pernah disia-siakannya. Tiba-tiba penyesalan menyusup ke hati Doni. Dia menyesal pernah menyia-nyiakan Ika.

“Nah.,udah jadi!” kata Ika memutus lamunan Doni. Ditunjukkan nya burung yang telah berhasil dilipatnya itu. “Bagus kan?” tanya nya lugu. Doni terkejut karena dia ga memperhatikan dan malah tertangkap basah sedang memperhatikan Ika.

“Iya..iya.. Bagus.” Katanya salting.

“Sekarang coba kamu yang lipat.” Kata Ika sambil menyodorkan selembar kertas origami.

“Errr..?” Doni menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Lupa.” Katanya malu. Padahal sebetulnya dia tak memperhatikan Ika tadi.

“Yah, kamu gimana sih. Sini aku ajarin lagi. Tapi abis ini harus bisa ya?” kata Ika dan ia pun mulai mengajari Doni lagi.

----

Malam itu Doni tak bisa tidur. Dia hanya berguling-guling di tempat tidurnya dengan gelisah. Seharian ini dia memikirkan Ika dan penolakannya pada Ika dulu. Rasa sesal membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

“Ya Allah, kenapa Kau hukum hamba seperti ini? Kenapa rasa ini justru datang di saat hamba sudah menolaknya. Hamba pernah melukainya.” Sesal Doni tak kunjung habis. Dia bingung, ntah kenapa sejak tadi sore dia merasakan sesuatu terhadap Ika. Rasa sayang, ingin melindungi, terhadap adik sahabatnya itu.

“Andai aja waktu dapat berputar kembali.” Lagi-lagi dia menyesali keadaan yang telah terjadi. Dan kini waktu seperti menghukumnya. Sampai tengah malam Doni tak bisa tidur. Akhirnya dia bangun dan duduk di meja. Di atas meja itu bertengger lah burung kertas yang berhasil dilipatnya setelah private kilat dengan Ika tadi sore. Dan ia pun tersenyum teringat pada senyum Ika yang polos, wajah lucunya ketika marah, wajah seriusnya ketika melihat Doni melipat, dan wajah senangnya ketika Doni berhasil, semua nya terlihat sangat tulus. Dan kata-kata Ika pun terngiang di telinganya.

Ada mitos. Katanya kalo seseorang bisa melipat seribu ekor burung-burungan kertas dalam waktu 30 hari, dan dia melakukannya sambil benar-benar meminta sesuatu, maka keinginan orang itu akan dikabulkan.”

Dipandanginya burung itu sambil tersenyum. Dan ia pun mengambil selembar kertas, lalu mulai melipat. Dalam hati ia berdoa.

“Semoga Ika mau memaafkan dan menerimaku kembali.”

SELESAI



yah, itulah cerpen lebay gw yg question ending. silahkan cmment seikhlasny.

eniwei, lusa itu IMLEK lho. dan gw demi ketemu ama temen2 lama gw yg notabene adalah orang-orang keturunan chinese dan hanya pulang kampung a.k.a mudik pas imlek, maka gw pun rela ngabisin liburan semester gw kali ini di bagansiapiapi. Bagan!! I'm coming!! gw kangen ama temen2 lama gw. Dyan, Fenny, Dewi, William, dll. Moga juga gw dapat ang-pao. uda 5 taun gw ga imlekan di bagan. hhoho.. *matre mode:ON*

well, gw bakal ga posting selama di bagan mungkin karena kneksi internet disana susye bgt. warnet ny aja 10rb/jam. "mati aja lo!!" Plg2 gw ol dari hp, itu pun kalo jaringan lg bagus.

last but not least, met liburan buat lo yg pada liburan. met imlek buat yg ngerayain. doain gw dapat ang-pao banyak yah. haks...!! tha...


3 comments:

ferdivolutions said...

Lantak lah situ.....

Hakz...
Ga ngerti gw artix..
Syp yg melantak syp??

Asyk y liburan...
Jd pgn deh...
*ML?*

....ChuMi.... said...

so sweeeeeet.....

hemm...ika bgt deh....
hohoho
'cinta tak bisa dipaksakan' mengingatkan ika pada snewen(nama barunya lici,hahahha)

ok, didoain dpt ang-pao buanyak...
nympe pkanbaru,traktir yak...
hahaha

mir jgn lupa oleh2 dr bgan yo...
met liburaaaan.........

Marsuyadi said...

wis keren bgt deh ceritanya.
semoga liburannya nyenengin ya

jangan lupa ikan asin ya ha ha ha