Wednesday, November 17, 2010

#2 Untitled

A short course in human relations:

The six most important words : "I admit that I was wrong."

The five most important words :" You did a GREAT job!"

The four most important words : "What do you think?"

The three most important words : "Could you please. . ."

The two most important words : " Thank you!"

The most important word : "We"

The least important word : "I"

Sunday, November 7, 2010

Wong Ndeso(?)



“Terhenyak ketika membaca: ‘Ndeso itu buang sampah sembarangan dan banyak wong ndeso di Jakarta yang suka buang sampah sembarangan.’ “ tweeted by @lynxluna and retweeted by @tediscript.

Dan saya pun ikut terhenyak ketika membaca tulisan itu. Apa hubungannya buang sampah sembarangan dengan ndeso? apa sesuatu yang ndeso itu sudah pasti yang jelek? Dan semua yang jelek-jelek itu sudah pasti ndeso? Kok kesannya sangat tidak adil dan mendiskreditkan desa begitu. Memangnya apa yang salah dengan menjadi orang desa? Toh cuma perbedaan nasib dan kesempatan saja ada yang dilahirkan di kota, ada yang dilahirkan di desa, ada yang dilahirkan di Amerika, ada yang dilahirkan di Surabaya. Kita toh gabisa minta mau dilahirkan dimana, di keluarga macam apa, dan dalam kondisi seperti apa. Semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa dengan hikmah di balik setiap keberadaan kita. Oke, saya mulai sok bijak.

Tapi intinya, saya heran. Apa masalahnya dengan status orang desa? Saya tidak malu mengakui bahwa saya orang desa. Kampung saya nun jauh di sana kota kecil terpelosok penghasil ikan di pinggiran selat Malaka yang bahkan namanya belum pernah terdengar oleh kalian. Terus kenapa? Apa dengan menjadi orang desa berarti berstatus lebih rendah dari orang kota? Ohooo.. belum cenchuuw..

Masalah kebersihan lingkungan begini menurut saya ga ada hubungannya sama status wong ndeso atau warga kota. Ini cuma masalah kepedulian, yang justru semakin jarang ditemukan di kota-kota besar.

Balik ke masalah wong ndeso, mungkin benar, tingkat pengetahuan sebagian besar orang-orang desa lebih rendah dari pada orang kota. Namun itu bukan berarti mereka bodoh dan ga peduli. Apalagi dengan tuduhan “buang sampah sembarangan itu ndeso”. Helloooo~ Ada bukti apa sungai-sungai di Jakarta sono dicemari oleh para wong ndeso? Lo kate Jakarta doang yang punya sungai? Sebanyak itu sungai-sungai lain, tapi kok yang sering kebanjiran Jakarta mulu ya. Di desa-desa apalagi. Kagak pernah nonton TV lo liat noh sungai dan perairan-perairan lain yang ada di desa malah jauh lebih bersih dan jernih daripada sungai-sungai di Jakarta. Trus apa? Yang tinggal di desa itu orang-orang kota? Ngik-ngok..

Ga adil banget kan menilai seseorang hanya dari tempat asalnya, desa atau kota. Gara-gara persepsi umum terhadap wong ndeso dan orang kota sih ya. Wong ndeso ya nganggap orang kota itu biasanya kaya, cakep, penampilan oke, dan pintar. Begitu juga sebaliknya, orang kota nganggapnya wong ndeso itu kurang mampu secara ekonomi, ga gaul, norak, penampilan seadanya, dan memiliki tingkat intelektualitas dan intelegensi yang rendah. Padahal ga begitu kenyataannya. Siapa bilang orang desa ga ada yang tajir, gaya oke, cakep, dan berintelegensi tinggi. Dan liat pula realitas orang-orang di kota yang cukup banyak menyajikan kemiskinan dimana-mana.

Tapi ya gabisa dipungkiri sekarang ini sebutan wong ndeso itu sering banget dipake dan memang terkesan sangat menyepelekan. Tapi jangan lupa dibalik remehnya sebutan wong ndeso itu masih tersimpan pandangan baik juga tentang sifat-sifat baik orang-orang desa yang lugu, ramah dan baik hati.


Yo wis ben wong arep ngomong opo
Yo wis ben aku ini memang wong ndeso
Yo wis ben arep ngomong empat mata
Yo wis ben sing penting ora kalah karo wong kota
Puas? Puas?

Monday, November 1, 2010

Bukan Review


Gw baru nonton Street Dance tadi. Ya! Tadi. Sedikit terlambat memang. Salahkan bioskop dua something itu atas keterlambatan tayang sebagian besar film-film nya. Sangat memancing semakin maraknya pembajakan padahal ya?
Oke, skip this thing.




Jadi, inti postingan gw kali ini adalah:
STREET DANCE WAS TOTALLY AWESOME!! Kya kya kyaaa!!!
GILA!! Keren parah sumpah!! Pengen nonton film itu lagi!! >,< >,< >,<
Sepanjang film sesak napas karena kebanyakan nahan napas. Tiap ada yang perform tahan napas. Ada yang nari, tahan napas. Sekeluarnya dari bioskop, napsu menari mendadak muncul dan membuncah, kalo ga ingat body udah kelojotan di jalan kali abis nonton itu film. Haha.. #labil

Honestly, gw ga begitu peduli sama jalan ceritanya. Yang gw perhatiin dari awal cuma gerakan-gerakan dan cast-nya doang. Diawal aja udah nongol si George Sampson, pemenang musim kedua Britain's Got Talent, yang herannya di film ini justru kebagian peran jadi Eddie, penari kacangan. Lalu ada pemanasan dari Team Jay 2-0 ; team pemeran utama di film ini yang juga keren banget. Lil Steph is my favorite dancer. She was so epic. Tsk!

Tampil berurut setelah Jay 2-0 ada FLAWLESS!! yang di film ini berperan sebagai The Surge, Rivalnya Jay 2-0. FLAWLESS?? FLAWLESS??!! Mami, Flawless gitu loh juara street dancer tingkat dunia yang bahkan diakui Simon Cowell sebagai penampil paling menghibur di sepanjang hidupnya?!! Gimana ga kelojotan kehabisan napas liat mereka kan iya kan iya kan?? #melting

Setelah kehabisan napas liat Flawless dan Jay 2-0, kita diberi sedikit kesempatan untuk bernapas dengan menyaksikan gerakan-gerakan anggun para balerina dan balerino yang tak lama kemudian justru menjadi street-ballet-dancers. Yap! Balerina dan balerino itu mempelajari dan memadukan gerakan street dance dengan ballet. Hasilnya? Saksikan sendiri di akhir filmnya. So STUNNING!!

Dan disela latihan para street-ballet-dancers itu, kita pun sedikit (?) dihentak dengan penampilan dari DIVERSITY!!Semangat AKU CINTA PERRI KIELY pun membuncah seketika melihat si bocah afro itu meliuk-liuk kesana-kemari. Sorry Ashley, biar elo leader nya, Perri ini jauh jauh jauh lebih menarik bagi gw. Maklum, jiwa pedofil lagi bergejolak huahaha.. Dan menurut gw, ini penampilan terbaik di sepanjang film ini. Tanya kenapa... XD