Friday, April 22, 2011

Lagi-lagi Soal Pengemis


Saya sudah pernah membahas tentang pengemis berkaki buntung dua kali yaitu di sini dan ini. Nah kali ini saya ingin membahas tentang rekan mereka, para pengemis kecil.
Kenapa saya bilang, karena pengemis anak kecil yang saya perhatikan tempat mangkalnya sama denga para pengemis 'buntung' itu yaitu di perempatan SKA. Saya memang sering memperhatikan para pengemis di sini karena saya hampir setiap hari lewat sana. Pengemis kecil ini ada satu orang yang sudah beberapa kali saya tandai karena sikapnya yang sangat tidak baik untuk seorang anak kecil. Perempuan pula. Hal yang membuat saya ingat dengan si kecil ini adalah ketika ada pengemis "buntung" baru di area mereka. Mungkin karena menganggap persaingan akan semakin ketat dengan adanya si 'buntung' baru, dia jadi kurang suka dan menginginkan agar si 'buntung' baru pergi. Hal ini ditunjukkan dengan cara mengata-ngatai si 'buntung'. Gak terima dihina, si 'buntung' balas caci. Umpat-mengumpat dilanjutkan tanpa peduli pada pengendara yang memandang mereka. Dan karena merasa kalah akhirnya si kecil meraup pasir di pinggir jalan dan melemparnya pada si 'buntung'. Lampu berubah hijau dan kami berlalu dari situ dengan kesan mendalam pada si kecil. #halah

Dan kemaren, lagi-lagi saya melihat si anak kecil ini. Kali ini dia berdua dengan temannya, sama-sama pengemis kecil. Awalnya  saya gak memperhatikan mereka sampai saya mendengar kata-kata yang sangat tidak pantas terlontar dari mulut si kecil.

"Kau poyo!! Poyo lonte!!" umpatnya marah pada si teman.

Cuma empat kata itu yang terdengar oleh saya karena setelah itu lampu berubah hijau dan kami pun berlalu. Tapi lagi-lagi hal ini menjadi bahan pikiran saya di sepanjang jalan pulang. Bagaimana bisa kata-kata semacam "poyok" dan "lonte" keluar dari mulut seorang anak yang umurnya mungkin tak lebih dari 6 tahun?? Kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh orang dewasa apalagi oleh anak seumuran dia. Merinding rasanya pas dengar teriakan itu. Dia tau gak sih apa yang dia ucapin itu? Atau itu cuma sekedar digunakan untuk meluapkan emosi pada si teman tanpa tau apa yang dia ucapkan? Ntahlah.. Saya penasaran sama si kecil itu. Kasian. Sekaligus jijik sebetulnya. Tapi lebih besar kasihannya. Lain kali kalo lewat sana pengen ajak ngobrol rasanya. Mungkin bawain dia sedikit makanan  dan minuman. Kalo  uang nggak lah. Soalnya mungkin saja ada sindikat yang memperkerja-paksakan anak-anak seusia itu di sana dan uang yang dikasi ke si anak malah digunakan untuk hal yang gak gak oleh orang-orang tak bertanggung-jawab itu.

12 comments:

NINDAAA said...

artinya apa ya miu? aku gapaham..

Ra-kun lari-laRIAN said...

astaghfirllah...
gak tau deh mau bilang apa lagi.

srrriii said...

ya allah, ampun deh parah banget. di bandung juga banyk anak2 jalanan gitu, ngomong seenaknya.
parah banget deh. mau jadi apa indonesia nantinya?

*eh kak, tadi artinya apa yg diucapin anak itu? aku nggak ngerti. hehe.

Muhammad Rizwahyudhy said...

Pengaruh lingkungan juga mungkin ya miw, hehehe. Kehidupan itu keras, sikut sana, sikut sini. :)

Ekonom said...

Kisah yang sangat satir... anyway, maaf saya hanya blogwalkin' so promosi2 web hehehehe..

Blog Ekonom Gila adalah sebuah blog yang coba memberikan kepada pembaca sebuah pendekatan segar dan ringan dalam memahami fenomena ekonomi di kehidupan kita sehari-hari

Aina said...

duh...mirisss.....

greatqo said...

poyok apaan sih? *serius, gak tau*

iya aku juga serem sendiri mikirin banyak anak jalanan kaya gitu. apa jadinya kalo udah dewasa. preman besar, mafia, ato pedagang narkoba?
semoga aja kembali ke jalan yang benar, kayak salah satu pemilik media ternama di Pekanbaru, yang konon pernah jadi pemulung (bukan pengemis yaa~)

Gaphe said...

itulah hebatnya lingkungan dalam mendidik. anak, umur berapapun, pasti menyerap sebanyak-banyaknya dari lingkungan. Jadi, ngga heran kalo lingkungann pengemis itu begitu, si anak juga menirukan.

Miss Nea Muslimovic said...

lingkungan mmang byak mmpengaruhi tngkah laku trlebih pda anak2.. salam blogger indonesia:)

dunia kecil indi said...

lingkungan emang lebih "mempan" daripada guru SD. selalu sedih lihat yg seperti itu. tp lebih banyak perasaan guilty'nya sih, aku sedih tapi gak bs ngapa2in. tapi dengan cara diajak ngobrol boleh juga, tuh. siapa tau bs lebih paham latar belakang si anak. bisa tau keluarganya juga. kalau udah jelas, kan bs minta bantuan temen2 lain buat sekolahin si anak. selametin 1 daripada gak sama sekali lah. gitu istilahnya :)

Nova Miladyarti said...

kesian juga ya liat nasib anak2 begitu. Mereka begitu karena lingkungannya begitu.

attayaya-mading said...

kata-kata umpatannya pasti bukan dalam bahasa melayu
karena mereka bukan orang melayu, dan juga bukan org pekanbaru